Nyobain ASUS ExpertBook Ultra dari Kacamata Software Engineer: Beneran "The Flagship of the Industry"?
Halo teman-teman! Balik lagi di blog Fajar. Kalau kamu sering baca review laptop bisnis, biasanya bahasannya mentok di situ-situ saja: desain elegan, gampang dibawa buat meeting, dan kamera jernih buat conference call. Agak membosankan, kan?
Tanggal 10 Juni 2026 kemarin, aku dapat undangan untuk hadir di acara launching ASUS ExpertBook Ultra di Medan. Di acara itu, ASUS cukup percaya diri menyematkan tagline: "The Flagship of the Industry. Period." Mereka berani mengklaim kalau laptop ini siap bersaing ketat dengan nama-nama lama di kelas premium.
Sebagai software engineer yang sehari-hari berkutat dengan barisan code, mesin virtual, dan kebetulan juga lagi aktif ngoprek AI (AI enthusiast), aku tentu nggak gampang termakan bahasa marketing. Pas dikasih kesempatan buat hands-on (mencoba langsung), yang ada di kepalaku langsung: "Mari kita tes gimana laptop ini kalau dipakai jalanin Docker containers berlapis, buka IDE berat, eksperimen local LLM, dan sesekali main game AAA."
Karena ini uji coba singkat di lokasi acara, aku tidak akan membahas ketahanan baterainya, melainkan fokus pada performa komputasi dan kenyamanan kerjanya. Berikut impresi awalku.
1. Dapur Pacu: Compiling Code Mulus, Dipakai Nge-Game AAA Tetap Asyik
Satu kelemahan klasik laptop tipis (bobot di bawah 1,1 kg) adalah thermal throttling. Saat kita butuh tenaga CPU penuh untuk compiling code atau menjalankan script pemrosesan data, performanya sering turun karena sistem kepanasan.
Tapi di ExpertBook Ultra (model B9406CAA) ini, ASUS menggunakan prosesor Intel® Core™ Ultra X9-388H. Yang bikin aku cukup takjub adalah sistem pendingin ASUS ExpertCool Pro yang diklaim bisa menahan TDP (Thermal Design Power) stabil di 50W di dalam sasis yang tebalnya cuma 10,9mm. Waktu aku iseng membuka puluhan tab dokumentasi dan mencoba memberikan load komputasi, kipasnya tergolong senyap. Buat kita yang butuh fokus tinggi pas lagi debugging, laptop yang nggak berisik itu sangat membantu.
Untuk urusan memori, unit yang aku coba ini dibekali RAM 64 GB LPDDR5x dengan kecepatan 9600 MT/s. Buat developer yang sering buka virtual machine (VM), database lokal, dan browser berat, bandwidth sebesar ini bikin context switching terasa mulus. SSD-nya juga sudah menggunakan PCIe® Gen 5.0 yang sangat mempercepat waktu loading environment kerja.
Lalu, bagaimana kalau kepala udah ngebul ngurusin bug seharian? Pelarian paling gampang tentu saja main game. Walaupun ini sejatinya laptop bisnis, ExpertBook Ultra dibekali GPU terintegrasi Intel® Arc™ B390 (12 Xe Cores). Aku coba tes untuk memainkan game kelas AAA yang lumayan berat seperti Black Myth: Wukong dan Cyberpunk 2077. Hasilnya? Sungguh enak! Mendapatkan frame rate yang mulus (dengan penyesuaian setting grafis tentunya) di laptop setipis ini cukup mengejutkan. GPU-nya jelas bisa diandalkan buat ngasih pengalaman gaming yang pantas di sela-sela istirahat kerja.
2. Eksperimen Local AI dan Asisten Meeting Pintar
Sebagai orang yang suka ngulik AI, aku sering merasa kurang sreg kalau harus bergantung terus pada API dari cloud, terutama jika menyangkut data klien yang sensitif. Solusi terbaiknya adalah menjalankan model AI secara lokal (on-device).
Intel Core Ultra X9 di laptop ini memiliki NPU (Neural Processing Unit) sebesar 50 TOPS. Dalam skenario engineering, NPU ini memungkinkanku untuk men-deploy model LLM (Large Language Model) open-source langsung di laptop, sepenuhnya offline. Dengan kombinasi NPU 50 TOPS dan RAM 64 GB, kita bisa menjalankan model AI lokal dengan skala parameter 7B hingga 8B (seperti Llama 3 8B atau Mistral 7B versi kuantisasi) dengan sangat lancar. Proses minta bantuan penulisan kode atau debugging pakai AI lokal bisa berjalan responsif tanpa harus mengirim source code kita ke server luar. Ini nilai plus yang besar untuk urusan privasi.
Selain untuk coding, ASUS juga memaksimalkan NPU ini lewat software bawaan bernama ASUS MyExpert, yang di dalamnya terdapat fitur AI ExpertMeet. Fitur ini sangat relevan buat kita yang sering ikut Sprint Planning atau koordinasi teknis:
- AI Meeting Minutes: Bisa mengenali siapa yang bicara dan membuat Minutes of Meeting (MoM) secara otomatis.
- AI Translation Live: Memberikan subtitle terjemahan real-time saat meeting dengan klien luar negeri.
- Business Watermark: Saat kita share screen memperlihatkan arsitektur database yang terikat NDA, fitur ini memunculkan watermark transparan identitas kita di layar, sehingga mencegah tangkapan layar diam-diam.
Yang paling penting, semua pemrosesan AI untuk fitur meeting ini berjalan lokal di NPU. Tidak ada rekaman suara atau layar yang diunggah ke cloud.
3. Ergonomi dan Layar: Tandem OLED dan Keyboard ala ThinkPad yang "Enak Beud"
Kadang aku merasa burnout kalau cuma diam di ruangan, jadi sesekali butuh kerja di cafe outdoor. Masalah utamanya: layar laptop sering kalah terang sama matahari, apalagi programmer identik dengan penggunaan IDE berbasis Dark Mode.
ASUS membawa teknologi layar sentuh Tandem OLED 14 inci (resolusi 3K). Panel dua lapis ini mampu menghasilkan kecerahan puncak hingga 1400 nits. Secara praktis, angka ini lumayan banget buat ngebantu melihat teks barisan kode di luar ruangan. Layarnya juga dilapisi Corning® Gorilla® Matte yang mengurangi pantulan cahaya, jadi menatap kode berjam-jam lumayan nyaman di mata.
Nah, beralih ke bagian paling krusial buat profesi kuli ketik: Keyboard dan Touchpad. Buat aku yang udah terbiasa ngetik 10 jari tanpa lihat keyboard dan selama ini sangat terbiasa dengan kenyamanan ngetik di seri ThinkPad, jujurly keyboard ExpertBook Ultra ini termasuk enak beud loh! Dengan key travel 1,5mm, ketukannya tactile dan nggak bikin jari cepat pegal saat nulis syntax panjang.
Selain itu, touchpad berbahan kacanya berukuran sangat besar dan nyaman beud saat dipakai. Ada haptic feedback yang bikin scrolling dokumentasi atau swipe pindah-pindah virtual desktop terasa presisi. Bodinya (berbahan paduan Magnesium-Aluminum) juga diklaim bisa menahan beban tekanan hingga 100 kg. Cukup menenangkan kalau laptop sering dimasukkan ke tas ransel yang padat berdesakan saat commuting.
4. Keamanan Kelas Enterprise dan Kepercayaan Industri
Sebagai engineer, kehilangan laptop fisik itu menyebalkan, tapi bocornya source code klien itu adalah bencana karier.
Laptop ini sudah memenuhi standar keamanan NIST SP 800-193 dan memiliki sistem enkripsi OPAL di tingkat hardware. Sederhananya, kalau amit-amit laptop ini dicuri dan si pencuri mencabut SSD-nya untuk dibaca di komputer lain, datanya akan tetap terkunci dan tidak bisa diakses.
Standar keamanan tinggi semacam inilah yang membuat ASUS ExpertBook mendapat kepercayaan besar di industri B2B. Di acara peluncuran kemarin, ASUS membagikan data bahwa saat ini mereka menempati posisi Brand Nomor 3 di sektor Pemerintahan (Government), Nomor 2 di segmen SMB (Small Medium Business), dan Nomor 1 untuk produk PC All-in-One.
Banyak end customer mereka berasal dari sektor Manufaktur, Pendidikan, Keuangan (Finance), Kesehatan (Healthcare), hingga Ritel. Mengingat sektor seperti rumah sakit dan perbankan memiliki regulasi perlindungan data yang sangat ketat, penggunaan lini ExpertBook oleh mereka adalah bukti validasi di lapangan terkait keamanannya.
Kesimpulan
Setelah mencoba langsung secara hands-on, aku merasa ASUS tidak sedang melebih-lebihkan klaim "The Flagship of the Industry" mereka.
Bagi software engineer atau AI enthusiast yang membutuhkan perangkat ringkas namun fungsional, ASUS ExpertBook Ultra ini menawarkan paket yang sangat solid. Mulai dari kapasitas RAM besar yang memadai untuk komputasi berat, NPU khusus untuk eksperimen local LLM (skala 7B-8B parameter), kenyamanan keyboard jempolan yang asyik buat ngetik cepat, fitur keamanan standar enterprise, hingga kemampuan bermain game AAA di sela-sela kerja.
Kalau kamu lagi mencari mesin tempur baru untuk menunjang workflow coding tanpa mengorbankan portabilitas, laptop ini jelas layak masuk ke dalam radar.






.png)
Tidak ada komentar :